![]() |
Pramono, pakar gizi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin dalam penuturannya di Group Gerakan Sadar Gizi menyampaikan argumennya.
Menurut dia, meniup makanan bakal memberi kesempatan ada transfer kuman dari si peniup ke makanan/minuman yang kita tiup. " Pikirkan jika si peniup tengah sakit flu, TBC atau mungkin saja hepatitis jadi kemungkinan penularan bakal berlangsung, " tulisnya.
Waktu kita meniup makanan jadi kita bakal keluarkan gas CO2 dari dalam mulut. Menurut reaksi kimia, jika uap air bereaksi dengan karbondioksida bakal membuat senyawa asam karbonat (carbonic acid) yang berbentuk asam, hingga bisa jadi permasalahan untuk kesehatan kita.
Walau pendapat ini masih tetap butuh diperdebatkan lantaran ada yang memiliki pendapat bahwa Reaksi pada CO2 serta H2O cuma berlangsung pada suhu serta desakan tinggi. CO2 bisa larut di air dalam desakan tinggi, membuat H2CO3. pada 25 derajat celcius, Kc = 1. 70 x 10-3. Untuk meraih keseimbangan, reaksi pada CO2 serta H2O memerlukan katalisator. Bila tak ada katalisator, reaksi ini bakal jalan lambat. H2CO3 adalah asam lemah.
Argumen lain janganlah meniup yaitu sesungguhnya yang punya masalah bukanlah pada airnya namun pada komponen yg ada di air. Di air bila memiliki kandungan Kapur tohor (CaO) jika ditiup oleh nafas manusia, bereaksi dengan CO2 dalam nafas, bakal jadi batu kapur (CaCO3) serta batu kapur ini salah satu dari batu ginjal yang seringkali didapati.
Bagaimanakah bila makanan ditiup memakai kipas? Pramono menjawab, dari segi ilmiahnya langkah tersebut tidak sama lewat cara meniup dengan mulut. Nafas keluarkan CO2, sesaat kipas tak.
" Nafas bila orangnya sakit dapat menular, bila kipas seperti angin alami, " terang Pramono.

0 komentar:
Posting Komentar